Jumat, 12 Maret 2010

Sarah Mukri: Ikhlas dengan Kanker

Penyakit datang bertubi-tubi. Mulai dari kanker payudara hingga kanker hati.  Tidak kurang dari 46 kali aku berhasil menyelinap dari tempat perawatan untuk datang ke training ESQ. Vonis dokter membuat dadaku terasa sesak. Sejenak aku terdiam sambil duduk di kursi di hadapan dokter. Setelah melakukan pemeriksaan berkali-kali, ia mantap mengatakan bahwa aku menderita batu ginjal.

Penyakit itu bisa datang dari berbagai sebab. Namun, musabab timbulnya batu kadang tak diketahui dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, penyakit batu ginjal kadang disebut sebagai “silent stone.”

Aku, Sarah Mukri, perempuan kelahiran Kotabumi, Propinsi Lampung, 11 Maret 1940, pun tak tahu bagaimana awalnya penyakit itu bisa hinggap di tubuhku. Yang aku tahu, tahun 1978, sekujur tubuhku tiba-tiba membengkak. Keadaan itu membuatku harus dikirim ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta.

Alhasil, dengan vonis penyakit batu ginjal itu, aku harus segera dioperasi. Ya Rabb…, tak pernah terbayangkan bagaimana rasanya masuk dalam ruang operasi. Bau obat dan peralatan bedah yang tersusun rapi, membuatku merasa getir.

Tapi jika ingin sembuh, aku harus mau menjalani operasi itu. Tubuhku dibedah dari bagian tulang punggung ke perut bagian depan. Paska operasi, aku sendiri merasa ngeri melihat hasil jahitan sepanjang itu. Tapi aku tak ingin mengindahkannya.

Aku kembali dalam kehidupan normal. Empat tahun kemudian, batu ginjal itu tumbuh kembali. Allahu Ya Rabbi…, apakah aku harus kembali dioperasi? Kembali merasakan gunting atau pisau membedah bagian tubuhku? Alhamdulillah, ternyata penanganannya tak perlu lagi dengan operasi, melainkan tembak laser.

Satu hal yang menggembirakan, aku tak perlu merasakan sakit dan perihnya pascaoperasi. Tapi, di balik itu, ada hal lain yang membuatku justru merasa sakit. Sakit yang bukan secara fisik, melainkan psikis.

Dokter memvonis: hidupku hanya mampu bertahan empat tahun lagi. Itu berarti tahun 1986 aku akan meninggal dunia. Sungguh vonis itu membuat kondisi psikologisku menurun drastis. Lambat laun aku hanya bisa pasrah pada Allah swt. Semua Dia yang mengatur dan berkehendak.

Selain itu, suamiku, Drs. H. Mukri mengatakan, “Jangan terpengaruh dengan vonis dokter, karena itu bisa saja salah.” Dalam setiap solat dan sujudku, tak lupa aku memohon diberikan yang terbaik untuk hidupku. Alhamdulillah, atas izinNya, aku bisa bertahan hingga 1988. Walaupun, hasil tes darah berdasarkan pemeriksaan doker, sangat rendah.

Suatu kali, aku pernah tidak bisa buang air kecil selama dua bulan. Tak terbayangkan rasanya. Sakit dan perih. Itu akibat berobat di salah satu tabib alternatif. Alhasil, kepala terasa penuh dengan air. Tubuh pun membengkak. Rasanya sudah mau mati saja. Bahkan, aku sempat berkata, “Jika harus meninggal, aku siap. Labbaika allahumma labbaik. Apa pun yang Kau kasih padaku, aku hanya mampu mengucap alhamdulillah.”

Setelah itu, dokter mengambil tindakan untuk  menyuntikkan ekstra lasik dan spirolakton. Alhamdulillah, puji syukur pada Allah, aku bisa kembali lancar buang air kecil.

Jauh sebelumnya, aku terkenal sebagai perempuan aktif dengan berbagai kegiatan dalam dunia pendidikan. Setelah lulus kuliah di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP), aku menikah dengan H. Mukri pada 8 Mei 1971. Terus terang, kehidupan kami terbilang lebih dari cukup.

Suamiku adalah seorang pendidik yang memiliki banyak kolega. Ia juga pekerja keras. Terbukti dengan seringnya mengirimkan surat lamaran pekerjaan, untuk mencari pekerjaan yang cocok, kalau dihitung bisa mencapai 76 eksemplar surat lamaran. Alhamdulillah, awal Agustus 1971, suamiku diterima kerja di Pertamina sebagai staf personalia dan ditempatkan di Dumai.

Tiga bulan kemudian, aku menyusulnya ke Dumai. Karena letaknya yang jauh dari perkotaan, aku rela tinggal dengan keadaan sangat pas-pasan. Bahkan, serba kekurangan dalam hal fasilitas. Kami memulai hidup dari nol lagi.

Enam bulan kemudian, Allah menitipkan amanah berupa kehamilan anak pertama. Di sana, aku melakukan pekerjaan apa pun untuk mengisi waktu luang. Ada salah seorang pimpinan Pertamina, Hanafi namanya, memotivasi diriku untuk bantu menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak di sekitar.

Masa kehamilan bulan ketujuh, aku membuka kelas Taman Kanak-Kanak (TK). Akulah kepala sekolahnya. Juga membuka kelas SD yang  yang kemudian diserahkan kepada Pak Nurdin. Serta membuka kelas SMP yang aku serahkan pengelolaannya kepada Pak Ali Amran.

Aku membuat peraturan untuk lebih menyiarkan Islam dengan cara mendirikan madrasah dan memanggil guru agama. Alhamdulillah, ada 21 siswa yang bergabung di madrasah itu. Pengalaman sebagai seorang guru memang tak perlu diragukan lagi dalam diriku. Pasalnya, sejak 1961 aku sudah menjadi guru.

Berbagai macam aktivitas, mulai dari jualan beragam lenan rumah tangga, misalnya serbet, gordyn, taplak meja, dan sebagainya. Selain itu, aku juga sibuk mengajar, yang menyebabkan aku mengalami kelelahan menumpuk. Bisa jadi, itulah cikal bakal beragam penyakit yang akhirnya kuderita hingga kini.

Tak pernah kuduga, hingga 2001, aku sudah menjalani hidup dengan satu buah ginjal selama 30 tahun. Pada 2001, aku merasa ada sesuatu yang terjadi dengan payudara bagian kiri. Ada urat besar di situ.

Tumor ganas mempunyai sifat yang khas, yaitu dapat menyebar luas ke bagian lain di seluruh tubuh, untuk berkembang menjadi tumor yang baru. Penyebaran itu disebut metastase. Sel kanker payudara memang tersembunyi di dalam tubuh selama bertahun-tahun tanpa diketahui, dan tiba-tiba aktif menjadi tumor ganas atau kanker.

Aku pun berkata, “Ya Allah, dosaku yang mana yang tak Kauampuni?” Berbagai kesenangan hidup, rizki yang melimpah, sudah aku dapatkan. Aku pun memohon pertolongan pada Allah, dengan mulai menyedekahkan sebagian harta yang kumiliki di jalanNya.

Aku sangat sadar, bahwa manusia mati tak akan membawa harta. Setelah membagikan rumah satu per satu pada keempat anak-anakku, sisanya kusedekahkan pada pemerintah daerah (Pemda) dan masyarakat yang memerlukan. Bahkan, ada beberapa petak tanah yang akan segera dibangun masjid di atasnya.

Akhirnya, pada tahun 2001 itu aku berobat ke dokter, mengenai penyakit kanker payudara. Pada 2006, payudara sebelah kiri harus diangkat. Setelah itu, aku harus menjalani kemoterapi. Hingga saat ini, sudah 21 kali kemoterapi. Ditambah harus makan obat seloda 1500 miligram pagi hari dan 1500 miligram sore hari. Walau sempat bosan dan mual, aku tetap harus mengonsumsinya. Alhamdulillah, ada suster yang setia membantu keperluanku setiap saat.

Semua obat sudah aku minum. Mulai dari sarang walet, keladi tikus, akar kucing, hingga berobat ke Cimahi (disuruh makan daging marmut yang disate, tapi aku selalu muntah). Aku merasa sudah sangat kebanyakan minum berbagai macam obat. Dan semua obat herbal yang aneh-aneh.

Berapa hari selesai operasi kanker payudara, aku ikut training ESQ Eksekutif Angkatan Ke-48. Walau kondisi tubuhku belum memungkinkan untuk itu, aku nekat. Ketika melakukan registrasi ulang di bagian pendaftaran, ada salah seorang kru ESQ Leadership Center yang melihat noda darah pada busana di bagian dada kiriku. Ia sempat menegurku, “Apakah ibu baik-baik saja?” Aku spontan mengatakan bahwa kondisiku baik saja.

Selesai operasi kanker payudara, aku seringkali kabur dari rumah sakit. Apalagi setelah aku jadi alumni ESQ. Sayang rasanya jika meninggalkan momen training ESQ. Padahal, kondisi kesehatanku tak memungkinkan untuk berada dalam ruang training. Tapi aku sangat ingin mendengar materi training ESQ.

Sebab, saat mengikuti training pada Angkatan Ke-48 tiga tahun silam, aku sangat terkesan. Banyak pencerahan spiritual yang aku dapatkan. Maka, selama dirawat, aku terus mencuri-curi waktu. Tidak kurang dari 46 kali aku berhasil menyelinap dari tempat perawatan untuk datang ke training ESQ .

Tapi, penyakitku tak hanya sampai di situ. Enam bulan setelah operasi kanker payudara, tumor itu menyebar ke bagian bawah tubuhku. Ya Rabb…, apalagi penyakitku kali ini?

Pada Agustus 2008, aku terdeteksi menderita kanker paru-paru. Tak ayal, 820 cc cairan di paru-paru harus disedot. Aku pasrah dan ikhlas pada Allah. Hanya padaNya aku memohon perlindungan. Setiap hari tak lupa aku selalu membaca Ayat Kursi, surat Al-Ikhlas, Al Falaq, An-Naas, juga Al Baqarah ayat 284.

Kini, sejak Juli 2008, aku tak bisa tidur nyenyak. Aku harus rela tidur sambil duduk. Punggungku tak kuat menahan tubuhku sendiri. Apalagi, awal tahun lalu, aku divonis menderita penyakit lainnya: kanker hati!

Dengan semua penyakit itu, aku makin berusaha mendekatkan diri pada Allah Sang Maha Penyipta. Aku juga coba berikhtiar dengan datang pada salah satu pengobatan alternatif di daerah Ciomas, Bogor.

Alhamdulillah, belum sebulan aku berobat ke sana, tubuhku mengalami perubahan ke arah lebih baik. Walau belum sepenuhnya bisa merebahkan punggungku, aku sangat bersyukur. Semoga kesehatanku terus membaik. Amin. (Seperti diceritakan kepada KARYATI NIKEN SUGESTI)

Komentar

Subhanallah..AllahuAkabar.. Begitu besar jihad ibu sarah melawan penyakitnya. insyaallah diangkat derajat kemuliaan ibu disisi Allah SWT Amin..Saat ini istri saya juga sedang berjuang melawan penyakit kankernya yang juga sudah sampai ke liver. Klo beleh saya tau informasi tentang pengobatan yang di ciomas Bogor..istri saya masih sangat muda, baru berusia 23 tahun.

subhannallah bunda kuatkan dirimu, Allah mencintai org2 ya sabar dan akan menaikkan derajat hambanya yg bersabar menghadapi cobaan.