Jumat, 3 September 2010

Mewujudkan Pemilu, Demokrasi, dan Politik Bermartabat

Menurut pendekatan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pemilu itu bukanlah tujuan, melainkan sarana. Penjabaran ini diutarakan pengamat politik, Eep Saefulloh Fatah ketika menjadi narasumber di ESQ Alumnae Day dengan tema “Pemilu, Demokrasi, dan Politik yang Bermartabat” di Menara 165, Jl. TB Simatupang Kav. 1 Cilandak Timur, Jakarta, Sabtu (20/6).
Tino Setiawan
Eep Saefulloh Fatah

Setelah menjalani pemilihan umum legislatif, dalam waktu dekat bangsa Indonesia akan menggelar pemilu berikutnya yang akan menentukan siapa yang akan pemimpin negeri ini. Karena itulah wacana pemilu menjadi hangat dan penting untuk dikaji. Pada acara Executive Gathering kali ini, ESQ LC mengundang Eep Saefulloh Fatah yang merupakan alumni ESQ Eksekutif Angkatan 50 untuk memaparkan tentang bagaimana pemilu yang bermartabat itu. 

“Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan proses pemilihan umum yaitu adanya: prasyarat, pemilu, dan tujuan. Jadi kita tidak sedang menuju pemilu, namun pemilu adalah sarana atau kendaraan yang akan membawa kita pada tujuan,” jelas Eep kepada audience yang hadir di ESQ after training service Alumnae Day.

Prasyarat pemilu terdiri dari tiga hal yaitu pertama adanya kebebasan dalam memilih, kedua partisipasi, dan ketiga arena untuk berkompetisi. Sedangkan ada lima tujuan yang ingin dicapai dengan pelaksanaan pemilu. Pertama, keterwakilan yaitu mewakili kehendak rakyat pemilihnya. Kedua, mandat yang dalam bahasa agama disebut amanah. Ketiga, akuntabilitas atau tanggungjawab pemimpin yang tentunya harus dimulai dari memimpin diri sendiri. Keempat kesejahteraan, dan kelima keadilan. 

Di dalam pemilu, ada yang terpilih dan yang tidak terpilih. “Ketika ia terpilih, tugas pertama adalah mewakili banyak orang yang diwakili, bukan mewakili kehendak dirinya dan bukan mewakili kehendak keluarganya. Kalau dia menjalankan itu, maka ia menjalankan fungsi keterwakilan,” sambungnya.

Idealnya demokrasi harus baik secara prosedural dan substansial. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, demokrasi baik secara prosedural jika prasyaratnya sudah terpenuhi dan demokrasi akan maju secara substansial jika tujuannya tercapai.

“Bagaimana membuat politik yang bermartabat?” tanya Eep kepada audience yang hadir di Alumnae Day. Modal terbesar agar membuat politik yang bermartabat adalah kalau setiap orang ikhlas dan rela membentuk dirinya sebagai warga Negara yang baik. Warga Negara yang dimaksud Eep bukan hanya sekadar memiliki KTP, namun harus mempunyai lima kriteria.

“Pertama orang itu tahu persis hak-haknya dan pandai menjaga haknya sendiri, kedua orang yang tahu persis hak-hak orang lain dan pandai menghargai kewajiban atas hak orang lain, ketiga bertumpu pada diri sendiri dan tidak bertumpu pada orang lain, keempat tidak pasif harus aktif, kelima mereka yang melawan dengan cara elegan tanpa mencederai hak orang lain,” jelas Eep yang dikenal sebagai pengamat politik.

Dalam seminar kali ini Eep menyampaikan keyakinannya bahwa masa depan bangsa Indonesia akan cerah dan gemilang. ”Indonesia akan menjadi bangsa yang besar. Masa depan sebuah bangsa tergantung pada setiap orang di negeri tersebut, bukan hanya tergantung pada pimpinannya. Masa depan tidak bisa ditunggu namun harus dijemput. Mereka yang mau menjemput masa depan itulah warga negara. Warga negara adalah orang yang tidak menganggap masa depan itu sebagai hadiah. Kita harus yakin dapat merebut masa depan. Dengan keyakinan kita dapat melipatgandakan energi, berpikir sebanyak-banyaknya, bekerja sekeras-kerasnya untuk menggapai kemajuan dan tujuan itu tercapai.” 

Eep percaya bahwa ESQ mempunyai fungsi yang sangat besar dalam menggapai masa depan bangsa Indonesia yang gemilang itu. ”Menurut saya peran ESQ sangat besar. Berbeda dengan partai, ESQ tidak minta dipilih jutaan orang, namun mendidik ratusan ribu orang.”

Mengutip Noam Chomski, ahli semiotika, yang mengatakan bahwa jika dalam masyarakat tidak ada yang yakin bahwa perubahan besar sedang terjadi di tengah mereka, maka perubahan itu tidak akan pernah terjadi. ”Kitalah yang merebut masa depan, dan tidak menitipkannya pada yang lain!” demikian ungkap Eep.

 

0
No votes yet
Your rating: Tidak ada
Nikmati sajian informasi kami dari browser ponsel Anda di http://m.esqmagazine.com

Komentar

Kirim komentar

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
6 + 6 =
Selesaikan soal berhitung sederhana ini.