Realisasi Program 100 Hari Ekonomi KIB II Sudah 60 Persen
Sudah sebulan sejak program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II diumumkan Presiden SBY, realisasi pencapaian bidang ekonomi rata-rata telah mencapai 60 persen. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa usai rapat koordinasi Kabinet Indonesia Bersatu II guna membahas prioritas nasional dan program 100 hari kerja, di Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Selasa (1/12).
Menteri berambut perak ini menyatakan optimismenya bahwa semua program 100 hari bidang ekonomi dapat berjalan dengan baik. Program 100 hari itu misalnya menyangkut harmonisasi berbagai peraturan yang menghambat, termasuk revitalisasi energi, termasuk listrik. "Kita terus marathon mengerjakan, jadi lebih mendasar penyelesaian masalahnya. Untuk energi bukan hanya listrik saja," katanya.
Program lainnya adalah menyangkut masalah tata ruang, masalah tanah, program land acquisition, lahan terlantar, dan masalah infrastruktur yang menggunakan lahan kehutanan. "Itu semua diatur dan draftnya rata-rata sudah selesai," katanya.
Sementara itu mengenai masalah kekurangan pasokan gula untuk 2010, Hatta mengatakan, pihaknya sudah mengadakan pertemuan dengan pihak terkait khususnya Departemen Perdagangan.
"Kita akan optimalkan semua potensi dan kalau memang ada kekurangan saya meminta Mendag untuk segera ambil action. Sekarang dilaporkan dulu potensi kita, nanti Mendag yang akan ambil keputusan apakah mempercepat pengadaan di dalam negeri, kalau ada selisih seperti apa, kita belum putuskan, kita tunggu Mendag," katanya.
Selain Hatta, beberapa menteri KIB II yang tampak hadir di antaranya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menneg BUMN Mustafa Abubakar, Menkominfo Tifatul Sembiring, Menpperin MS Hidayat, Menteri Perumahan Rakyat Suharso Manoarfa, Menteri Perhubungan Freddy Numberi, Menbudpar Jero Wacik, serta Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Mikro Syarif Hasan.
Pada kesempatan itu, Menneg BUMN Mustafa Abubakar menyatakan bahwa pemerintah akan memperkuat sistem alutsista dengan memberdayakan BUMN strategis yang ada. "Alutsista mau diperkuat tahun ini dan tahun depan," katanya.
Penguatan itu dilakukan antara lain dengan mengupayakan adanya kontrak jangka panjang untuk pembelian alutsista sehingga industri strategis bisa memproduksi dengan kepastian pasar untuk jangka panjang yaitu sekitar lima tahun. "Itu bisa membantu kepastian pasar sehingga bisa berproduksi lagi untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri," katanya.
Ia menyebutkan, BUMN strategis dimaksud antara lain PT Pindad di Bandung, PT PAL, dan PT Dirgantara Indonesia.
Mengenai berapa dana yang dibutuhkan untuk pembelian alutsista dari BUMN strategis itu, Mustafa mengatakan, belum ada keputusan pasti. (ant/kmp/sam)

