Jumat, 12 Maret 2010

12 Wartawan Tewas di Philipina Selatan

wartaislam
illustrasi

Sebanyak 12 wartawan dari 36 orang yang tewas akibat penembakan yang diduga dilakukan oleh gerombolan senjata bersenjata di Provinsi Maguindanao, Filipina bagian selatan.

Menurut stasiun televisi GMA News bahwa penembakan terjadi pada Selasa pagi, 24 November 2009. Penembakan tersebut diduga terkait persaingan politik antara dua keluarga yang berseteru dalam rangka pemilihan gubernur di Maguindanao.

Lembaga advokasi wartawan yang berbasis di Paris, Reporters Without Borders menyatakan, "Belum pernah terjadi dalam sejarah media massa di mana banyak jurnalis tewas dalam sehari. Kami menyatakan simpati dan duka cita kepada semua jurnalis di Filipina yang terguncang setelah serangan brutal ini,".

Pembantaian terjadi ketika para pendukung Esmael Mangudadatu, disertai para wartawan akan mendaftarkan tokoh pilihan mereka menjadi kandidat dalam pemilihan gubernur. Tiba-tiba muncul gerombolan bersenjata untuk mencegah pencalonan itu. Tak lama kemudian terjadi penembakan. Kejadian fatal ini juga menimpa istri, saudara perempuan dan teman-teman Mangudadatu.

Keluarga Mangundadatu menuding klan Ampatuan sebagai pihak yang bertanggungjawab atas pembantaian itu. Keluarga Ampatuan memimpin provinsi Maguindanao sejak 2001.

"Mereka tidak ingin kami mengajukan kandidat dalam pemilihan gubernur mendatang. Ibarat mengelola bisnis, mereka ingin semuanya," kata saudara kandung Esmael, Jong, yang menjadi walikota Buluan.

Keluarga Ampatuan belum memberi tanggapan atas tuduhan keluarga Mangundadatu. Andal Ampatuan, pemimpin klan dan gubernur Maguindanao, juga berkali-kali mengalami serangan.

Dia mencurigai para simpatisan kelompok pemberontak Front Pembebasan Islam Moro (MILF) berkali-kali merancang serangan atas dirinya. Sampai kini pihak keamanan terus memburu para penembak tersebut. (viv/jko)