Kamis, 9 September 2010

Undang Ary Ginanjar, BRI Adakan Musyawarah Pimpinan Nasional

Joko Santoso

Demi membangun insan yang unggul dan mempunyai kemampuan yang memadai dalam bidang manajemen, Bank BRI mengadakan Musyawarah Pimpinan Nasional di Hotel Grand Cempaka, Jalan Yos Sudarso, Jakarta, Senin-Jumat (09-13/11).

Acara ini berlangsung selama lima hari, dan diikuti sekitar 394 orang perwakilan dari serikat pekerja BRI seluruh Indonesia. Musyawarah atau konsilidasi ini dimaksudkan untuk menyamakan visi serikat pekerja BRI, agar pekerja BRI mempunyai kemampuan atau potensi lebih baik.

Pada hari ke-2 Ary Ginanjar Agustian diundang sebagai pembicara. Agar insan-insan BRI mempunyai mental yang baik, sehingga kinerjanya semakin bagus.

Ari Ginanjar mengatakan, BRI adalah bank yang besar, karena menjangkau hingga pelosok-pelosok negeri dan tersebar di seluruh Indonesia. BRI mempunyai jaringan yang luas dan paling menyentuh rakyat kecil. “Hari ini adalah hari pahlawan, BRI adalah salah satu sosok pahlawan, karena kita merasakan manfaat BRI,” kata Ary Ginanjar.

“ESQ merupakan bagian dari peningkatan mutu para karyawan, agar mempunyai spirit yang kuat, dan enjoy dalam bekerja. Sehingga kita dapat bersama-sama membangun BRI,” jelas Sarwono Sudarto Direktur BRI.

Menurut Sarwono, dipilhnya ESQ dalam musyawarah ini karena ESQ paling dikenal di Indonesia, dan terbukti dampak positifnya, karena sebagian besar karyawan BRI telah mengikuti training ESQ. Sehingga karyawan BRI, bekerja tidak hanya mengejar uang semata, mereka menganggap ini adalah bagian dari ibadah.

Sarwono menambahkan, “ESQ adalah virus positif karena menyebarkan kebaikan dan ESQ merupakan kekayaan bangsa yang luar biasa.”

Adi Setyanto, manager BRI dan ketua panitia acara ini mengatakan, ketika kuliah ia sempat tidak percaya Allah dan meragukan Al Quran. “Saya belajar agama tidak ada gurunya, sehingga saya mengambil kesimpulan bahwa apa yang saya lakukan, menurut keyakinan saya sendiri,“ kata Adi.

Sehingga pada waktu itu Adi menjalankan agama dengan caranya sendiri. Dalam pencarian itu ia merasa tidak bahagia dan tentram. Dalam hatinya selalu bertanya-tanya, ”Hidup ini untuk apa dan mau dibawa ke mana?”.

Pertanyaan Adi terjawab, setelah ia mengikuti  training ESQ sekitar tahun 2005 di Jakarta Convention Center. “Allah-lah tujuan kita, dan Allah tempat kita minta dan menyerahkan diri,” jelas Adi. Setelah itu, ia tidak mudah hanyut dengan rayuan dunia dan sadar tugas manusia di dunia.

Adi pun memanggil ustad untuk mengajarinya tentang agama, akhirnya pada tahun 2008 Adi bersama istri telah menunaikan ibadah haji. (joko/sam- www.esqmagazine.com)

0
No votes yet
Your rating: Tidak ada
Nikmati sajian informasi kami dari browser ponsel Anda di http://m.esqmagazine.com

Komentar

Kirim komentar

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
2 + 1 =
Selesaikan soal berhitung sederhana ini.