Lamongan Siaga Kaki Gajah
Sebanyak 15 Kecamatan dari 25 Kecamatan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mewaspadai penularan penyakit Filariasis atau lebih akbrab dengan nama kaki gajah. Penyakit yang ditularkan lewat nyamuk yang membawa cacing filaria ini kerap muncul pada musim peralihan dari kemarau ke musim hujan.
Menurut Kepala Subdinas Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman, Dinas Kesehatan Lamongan, dr Abdur Rivai, kasus penyakit kaki gajah di kabupaten ini bersifat datang dan pergi. Tetapi, pihaknya mewaspadai 15 kecamatan di Lamongan yang penduduknya pernah terjangkit penyakit dengan ciri-ciri kaki membengkak besar ini.
Dari 15 kecamatan terjadi sekitar 40 kasus, penyebaran terbesar berada di Kecamatan Kembangbahu dengan 10 kasus, kemudian Babat lima kasus, Paciran empat kasus, Maduran empat kasus, Karang Geneng, dan Sambeng masing-masing tiga kasus. Kemudian Kecamatan Kota Lamongan, Sugio, Kedungpring masing-masing dua kasus, Bluluk dan Brondong satu kasus.
Untuk penanganan medis, Dinas Kesehatan Lamongan telah menyediakan sekitar 300 tablet obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC). Obat ini, telah tersedia di seluruh pusat kesehatan di 27 kecamatan di Lamongan. Sejauh ini persediannya masih cukup.
Biasanya jika ada satu orang terjangkit kaki gajah, seluruh keluarga diharuskan mengkonsumsi obat ini, termasuk melakukan tes darah guna memastikan tertular-tidaknya orang tersebut. Sedangkan bagi penderita, mereka harus mengkonsumsi obat selama 10 hari. Tetapi, jika sudah memasuki stadium lanjut, akan dilakukan operasi.
Rivai mengatakan cacing filaria dibawa beberapa jenis nyamuk, di antaranya nyamuk anopheles, culex, mansinia, aedes, dan armigeres. Sedangkan di Lamongan, daerah yang diwaspadai penularan penyakit ini berada di bagian utara. "Terutama di daerah pesisir pantai utara," tegasnya.
Lamongan hingga kini belum dinyatakan sebagai daerah endemik kaki gajah. Ukuran endemik, lanjut Rivai, jumlahnya minimal satu persen dari jumlah penduduknya. Pengobatan dimulai dengan mencari penderita, berikut pengobatan sekitar rumah pasien, tetapi tidak dilakukan dengan cara massal.
Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Akibatnya penderita tidak dapat bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain sehingga memnjadi beban keluarga, masyarakat dan negara.
Di Indonesia sendiri penyakit kaki gajah tersebar luas hampir di Seluruh provinsi. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6.233 orang.
Hasil survai laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata Mikrofilaria rate (Mf rate) 3,1 %, berarti sekitar 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi untuk ketularan karena nyamuk penularnya tersebar luas. Untuk memberantas penyakit ini sampai tuntas. (tmp/inf/jko)
Baca juga...
- Kornea Biosintetik Atasi Kerusakan Mata
- Asparagus dan Bawang Putih Kurangi Obesitas dan Diabetes
- Obesitas Lei Lei, Gara-gara BPA?
- Puasa dan Kesehatan Perempuan
- Inilah Obat Tradisional Berbahaya Temuan BPOM
- Selama Ramadan, PMI Gelar Donor Darah Malam Hari
- Tips Menyiapkan Sarapan Pagi Sehat dan Cepat
- Sanitasi Indonesia Terburuk di ASEAN
- Depresi dan Schizophrenia Jadi Momok di Jerman
- Stop Pinjam Gunting Kuku
-
3 hari 23 jam yang lalu
-
6 hari 11 jam yang lalu
-
1 minggu 10 jam yang lalu
-
1 minggu 2 hari yang lalu
-
1 minggu 3 hari yang lalu
-
2 minggu 8 jam yang lalu
-
2 minggu 2 hari yang lalu
-
2 minggu 4 hari yang lalu
-
2 minggu 5 hari yang lalu
-
2 minggu 5 hari yang lalu


Komentar
Kirim komentar