Jumat, 12 Maret 2010

Model Penanggulangan HIV/AIDS

Oleh: Dr. Anna Uyainah ZN SpPD,K-P,MARS
dreamstime.com

Menyedihkan bila mengamati penderita HIV/ AIDS yang semakin meningkat di seluruh dunia terutama di Indonesia, negara yang terkenal dengan budaya timurnya dan juga dengan jumlah muslim terbanyak.

Lalu, apa yang salah? Perubahan budaya? Globalisasi? Bagaimana cara terbaik dalam menghadapi bahaya ini? Untuk itu dalam rangka memperingati Hari HIV sedunia 1 Desember 2009, perlu sosialisasi mengenai HIV/AIDS dan permasalahannya.

Penyakit infeksi HIV adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan melemahkan kemampuan tubuh kita untuk melawan segala penyakit yang datang.

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala yang timbul setelah kekebalan menurun. Gejala yang timbul antara lain demam, batuk, atau diare yang terus-menerus, berat badan menurun, timbulnya bercak-bercak merah kehitaman pada area tertentu, dan lain-lain.

Kumpulan gejala penyakit akibat lemahnya sistem kekebalan tubuh inilah yang disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).

Perjalanan dari awal terinfeksi HIV sampai terlihat gejala-gejala di atas atau yang kita sebut penyakit AIDS memerlukan waktu sampai 5-7 tahun.

HIV dapat ditularkan melalui: darah, jarum suntik, tindik atau tato yang tidak steril secara bergantian, air mani (cairan, bukan sperma), cairan vagina, dan air susu ibu (ASI).

Sehubungan dengan cara penularan di atas, maka untuk mencegah infeksi HIV kita harus menghindari hal-hal yang dapat menularkan infeksi HIV tersebut.

Yang harus dihindari adalah hal sebagai berikut: penggunaan narkoba, berganti-ganti pasangan, tato, dan lain-lain. Pada petugas kesehatan harus berhati-hati dalam tugas, untuk keselamatan sendiri jangan sampai tertusuk jarum suntik, dan juga jangan lupa upaya menjaga keselamatan pasien.

Apakah HIV/AIDS sudah ada obatnya? Obat untuk HIV telah ditemukan dan telah digunakan dan sangat banyak membantu penderitanya. Obat tersebut yang dikenal dengan obat Anti Retro Viral (ARV) diberikan gratis oleh pemerintah atau LSM peduli AIDS, namun jumlahnya masih terbatas. Untuk mendapat obat ARV, umumnya setelah diagnosis adanya infeksi HIV, dokter akan menginformasikan mengenai cara mendapatkan obat ARV.

Infeksi HIV/AIDS telah berkembang sangat pesat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Saat ini terdapat tidak kurang dari 33 juta orang di seluruh dunia yang terinfeksi HIV . 
Di Indonesia saat ini penderita infeksi HIV/AIDS berjumlah 18.442 orang yang tersebar di 300 kabupaten/kota dan 32 propinsi di Indonesia.

Usia terbanyak yang terjangkit penyakit ini antara 15-29 tahun. Sebagian besar penderita ini diakibatkan oleh hubungan seksual berisiko (seks bebas) dan suntikan (narkoba lewat suntikan), sebagian kecil melalui transfusi darah, melalui kehamilan, serta alat kerja.

WHO memprediksikan jika terdeteksi satu kasus maka mungkin terdapat 100 kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi, karena terdapat banyak hal yang menyebabkan tidak semua penderita dapat terdeteksi dan dilaporkan. Dengan perbandingan tersebut  maka prevalensi sebenarnya HIV/AIDS di Indonesia bisa mencapai 1.844.200 kasus.

Beberapa LSM menyatakan, pemerintah masih kurang serius dalam melakukan langkah-langkah kongkrit untuk menanggulangi infeksi HIV/AIDS. Hal ini dinilai berdasarkan tidak adanya penurunan angka infeksi HIV/ AIDS, bahkan terjadi peningkatan jumlah penderita. Padahal beberapa negara seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina dalam 3 tahun terakhir mengalami penurunan angka penderita HIV/ AIDS.

Beberapa upaya telah dilakukan pemerintah untuk menurunkan jumlah penderita HIV/AIDS, misalnya sosialisasi dan distribusi kondom secara gratis. Namun upaya ini menuai kontroversi. Sebagian LSM tidak setuju dengan kondomisasi, karena dianggap legalisasi seks bebas.

Upaya menurunkan jumlah penderita HIV/ AIDS membutuhkan biaya besar. Sampai saat ini biaya tersebut sebagian besar didapatkan dari donatur yang umumnya dari negara Barat, yang mempunyai budaya berbeda dengan Indonesia. Sedangkan program yang dilakukan disamakan dengan negara lain, seperti kondomisasi di atas. Apakah ini dapat menyelesaikan masalah atau malah menjadi masalah?

Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu adanya kolaborasi antara pemerintah, LSM, dan berbagai profesi sehingga ditemukan cara yang tepat untuk memberantas penyebab dari infeksi HIV.

Kelompok yang perlu action dalam melaksanakan pencegahan infeksi HIV adalah orangtua, pemerintah, LSM, profesi (guru, dokter, penceramah, ustadz/ustadzah, dan lain-lain), dan unsur lain yang peduli terhadap bencana HIV/ AIDS ini.

Bagaimana peran pendekatan spiritual dalam menanggulangi bencana HIV/AIDS? Menurut penulis pendekatan spiritual menjadi sangat penting karena sebagian besar penderita disebabkan karena seks berisiko dan penggunaan narkoba suntik, yang berarti rendahnya pemahaman dan penerapan agama.

Kalau saja sejak kecil pendidikan perilaku dan agama oleh orangtua dilakukan secara baik, di sekolah mendapat pendidikan perilaku dan agama secara baik, di lingkungan mempunyai kebiasaan datang ke majelis-majelis ilmu agama, bergabung dengan organisasi yang bersifat positif atau religius, maka mereka tidak akan terjerumus dan tidak akan terinfeksi HIV. Jadi semua pihak harus berperan.

Mungkin diperlukan model lain cara penanggulangan penyakit HIV/ AIDS di Indonesia yang masyarakatnya sebagian besar muslim. Di Thailand, untuk menanggulangi hal ini banyak berperan para biksu. Biksu mendapat tugas dan kewajiban dalam membina para penderita HIV/AIDS ini.

Kalau saja ada pihak baik pemerintah maupun swasta yang dapat menghimpun dan mengkoordinir LSM, kalangan profesi dan para ustadz/ustadzah untuk membuat program penanggulangan HIV/ AIDS yang lebih tepat, insya Allah akan lebih berhasil. (bhq/sym)

Komentar

"Yang harus dihindari adalah hal sebagai berikut: penggunaan narkoba, berganti-ganti pasangan, tato, dan lain-lain."
Sedikit ralat: penggunaan narkoba dapat menularkan HIV, dalam hal ini jika narkoba yang digunakan adalah narkoba jenis inject/suntik, dan jarum suntiknya dipakai secara bergantian dengan teman-teman.

"Apakah HIV/AIDS sudah ada obatnya? Obat untuk HIV telah ditemukan dan telah digunakan dan sangat banyak membantu penderitanya."
Ralat: ARV bukanlah obat untuk menyembuhkan HIV, namun obat untuk menekan laju pertumbuhan virus, dan hanya direkomendasikan kepada pengidap HIV yang memang benar-benar membutuhkannya, karena efek samping dari ARV ini bervariasi.

"Sebagian LSM tidak setuju dengan kondomisasi, karena dianggap legalisasi seks bebas."
Ralat: hanya LSM yang berbasis pada suatu ajaran agama saja yang menolaknya, LSM pada umumnya mendukung. Karena walau bagaimanapun, dengan atau tanpa adanya kondom, manusia tetap akan melakukan hubungan sex.

"Kalau saja sejak kecil pendidikan perilaku dan agama oleh orangtua dilakukan secara baik, di sekolah mendapat pendidikan perilaku dan agama secara baik, di lingkungan mempunyai kebiasaan datang ke majelis-majelis ilmu agama, bergabung dengan organisasi yang bersifat positif atau religius, maka mereka tidak akan terjerumus dan tidak akan terinfeksi HIV. Jadi semua pihak harus berperan."
Ralat: hal ini membuat orang menyangka bahwa penderita HIV adalah orang yang berahlak bejat. saya mempunyai teman ustad yang tertular HIV karena transfusi darah. lalu apa salah ustad tersebut?

Demikian sedikit masukan dari saya, terima kasih.

Denny Prasetya
Yayasan Inter Medika Jakarta
Penaggulangan HIV dan AIDS
Telp 021-63850618