Jumat, 3 September 2010

Jelang Tutup Tahun, Aktivitas Wisata di Bukittinggi Meningkat

Mazri Tanjung

Aktivitas kepariwisataan di Sumatera Barat, khususnya Kota Bukittinggi, mulai menggeliat kembali. Dua bulan pasca bencana gempa 30 September, sempat membuat sektor pariwisata Sumatera Barat umumnya mengalami dampak yang cukup serius. Infrastruktur pariwisata seakan lumpuh. Namun kini secara perlahan mulai bangkit.

Kota Tri Arga, julukan Bukittinggi, akan menggelar kegiatan pada Desember. ”Sumatera Barat memang baru kena musibah, namun sebagian besar daerah-daerah di Kabupaten/Kota masih dapat dikunjungi para wisatawan. Termasuk Bukittinggi yang akan membuat perhelatan untuk wisatawan,” kata Juni Amri, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bukittinggi.

Menurut Juni Amri, sebelumnya pihaknya juga telah mengundang para jurnalis dan kru televisi Malaysia ke kota yang diapit tiga gunung itu. Hal tersebut dilakukan guna memberitahukan secara luas kepada penduduk negara jiran itu, bahwa Sumatera Barat umumnya dan Bukittinggi khususnya, sudah mulai pulih. Perlu diketahui, sebagian besar para wisaawan mancanegara yang melancong ke Sumatera Barat berasal dari Malaysia dan Singapura.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bukittinggi juga berupaya berpromosi, baik secara konvensional maupun online. ”Kami tengah membuat promosi wisata dalam bentuk buku, selebaran dan brosur. Juga pembinaan terhadap sanggar-sanggar kesenian yang ada, agar selalu siap setiap saat jika diperlukan,” ujar Amri lagi.

Instansi yang terkait dengan sektor pariwisata di Bukittinggi juga akan melakukan pembenahan dan diversifikasi atraksi wisata di daerahnya. Salah satunya adalah pembentukan kelompok angkutan tradisional Bendi. ”Kami akan mengumpulkan para kusir bendi, lalu memberikan pelatihan dan ceramah sadar wisata. Kemudian kita bantu mereka menghias kereta Bendi-nya. Para kusir nantinya selalu mengenakan pakaian tradisi setiap kali mereka beroperasi.”

Pertengahan Desember, Pemerintah Kota Bukittinggi juga akan menyelenggarakan Pesta Budaya, Seni, Pameran Dagang dan Industri. Perhelatan itu mereka beri tajuk dengan ”Pedati Nusantara IX – 2009”. Selain dari daerah Sumatera Barat sendiri, para pesertanya juga berasal dari provinsi tetangga dan beberapa negara bagian di Semenanjung Malaysia.

Yang tidak kalah kontroversialnya adalah wacana penutupan Jam Gadang pada saat pergantian tahun 2009. Tahun lalu, pertama kalinya Jam Gadang sebagai icon Bukittinggi ditutup. Penutupan itu menuai bermacam komentar dan pendapat dari masyarakat. Polemik bermunculan dari beragam strata sosial, termasuk para wisatawan itu sendiri.

Keluhan terbanyak ketika itu berasal dari para pemerhati dan praktisi pariwisata. Salah satunya dari Himpunan Peramuwisata Indonesia. ”Bagi kami penutupan Jam Gadang bukanlah masalah serius. Namun kami cukup terganggu dengan ditutupnya akses lalu lintas di jalur pintu gerbang Kota Bukittinggi menuju pusat kota. Banyak wisatawan yang berjalan kaki cukup jauh menuju penginapan mereka, karena ketiadaan kenderaan,” keluh Edi Nefora, Ketua HPI Sumatera Barat.

Ia berharap kejadian serupa tidak berulang lagi tahun ini. Menyikapi keluhan tersebut, Pemerintah Kota Bukittinggi mencoba bijaksana. ”Pemerintah masih membicarakan dan mempertimbangkan, apakah Jam Gadang akan diutup juga seperti saat pergantian tahun lalu atau tidak,” ungkap Juni Amri. (Mazri Tanjung/sam)

0
No votes yet
Your rating: Tidak ada
Nikmati sajian informasi kami dari browser ponsel Anda di http://m.esqmagazine.com

Komentar

Kirim komentar

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
12 + 2 =
Selesaikan soal berhitung sederhana ini.