Selasa, 16 Maret 2010

Moralitas Itu Masih Ada: Di Balik Pencopotan Kapten Timnas Inggris

bbc.co.uk/Getty Images
Capello menarik keluar John Terry di sebuah laga

Merespon perselingkuhan John Terry, manajer tim nasional Inggris Fabio Capello mencopot posisinya sebagai kapten tim nasional Inggris. Bukti konkret moralitas masih menjadi acuan dalam kepemimpinan.

Perzinahan, atau hubungan seks di luar nikah, bukanlah sebuah tindak kriminal di Inggris. Pun perselingkuhan. Tidak ada hukuman maupun sanksi moral-sosial terkait dengan dua tindakan tersebut. Perzinahan dan perselingkuhan terjadi di semua strata sosial dan lingkar kehidupan. Politisi, wartawan, agamawan, akademisi, artis, seniman, tak ketinggalan pemain sepakbola.

Kalau mau jujur, sangat susah untuk menemukan pemain sepakbola yang bersih dari urusan ini, bukan hanya di Inggris tetapi juga Eropa. Kalau saja lingkaran dalam persepakbolaan mau lebih terbuka, dunia mungkin akan lebih terkejut lagi dengan banyaknya pemain atau bekas pemain yang selama ini dikenal bersih, ternyata menyimpan jejak rekam yang mengerikan.

Karenanya ketika muncul tuduhan bahwa John Terry, kapten timnas Inggris dan klub Liga Inggris Chelsea, berselingkuh publik sepakbola Inggris tidak terkejut. Khusus untuk Terry, kalau tuduhan berselingkuh itu benar, maka itu hanyalah untuk kesekian kalinya Terry ketahuan mengkhianati istrinya.

Yang berbeda adalah reaksi sang manajer tim nasional Inggris, Fabio Capello. Dengan tenang, dingin, tanpa sungkan ia mencopot Terry dari posisinya sebagai kapten tim nasional Inggris.

Ia memuji Terry sebagai kapten yang bagus, tetapi pada saat bersamaan menekankan: mencopot Terry adalah demi kebaikan tim nasional Inggris.

Publik sepakbola Inggris, seperti biasa, terbelah opininya: ada yang menyetujui, ada yang tidak.

Yang tidak setuju dengan cepat mempertanyakan, apa hubungannya bermain sepakbola dengan selingkuh ataupun perzinahan. Selama yang bersangkutan menunjukkan performa yang bagus sebagai kapten dan pemain di lapangan, itulah yang dinilai. Perselingkuhan maupun perzinahan adalah urusan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan lapangan bola. Toh yang dicari bukanlah pengganti Paus yang akan menjadi panutan moral keagamaan? Demikian kira-kira kilah mereka yang tidak setuju dengan Capello.

Yang setuju berargumen bahwa Terry telah mengkhianati orang terdekatnya, istrinya. Kalau istrinya saja dikhianati, apa susahnya mengkhianati orang lain.

Lebih celaka lagi, dan premis pertama seperti mendapatkan pembenaran, tuduhannya adalah Terry menyeleweng dengan (mantan) kekasih teman akrabnya di klub (Chelsea) dan tim nasional Inggris, Wayne Bridge. Konon ketika hubungan mereka sedang bermasalah menuju bubar, John Terry-lah yang menjadi tempat keluh kesah mereka berdua.

Mereka yang menyetujui pemecatan Terry tidak mempersoalkan perzinahan maupun perselingkuhannya, tetapi tindak khianatnya. Mereka membayangkan dengan terbongkarnya reputasi Terry, tidak akan lagi ada pemain Inggris di kamar ganti yang akan mendengarkan dan mempercayai omongannya sebagai kapten.

Jelaslah bahwa Capello sudah menimbang itu semuanya. Mungkin dalam skala yang berbeda ia telah berulang kali harus mengambil keputusan semacam itu. Ia bukan manajer kemarin sore. Ia tidak mendulang kesuksesan dan tiba di posisinya yang sekarang tanpa mengerti pertimbangan-pertimbangan seperti itu.

Bagaimanapun ia orang Italia, bangsa yang melahirkan bapaknya pragmatisme politik, Nicollo Machiavelli. Seperti politik, sepakbola adalah kegiatan beregu, olahraga yang mengandalkan kolektivitas tim. Tempat berkumpulnya individu dengan moralitas yang beragam tetapi mempunyai kesamaan tujuan.

Interaksi antar individu pelan tapi pasti kemudian menemukan keseimbangan nilai yang mengental. Menjadi nilai moralitas tim. Menjadi sebuah konstanta yang akan menentukan hirarki hubungan antar pemain, pembawaan tim, nuansa keakraban dan kerjasama, dan rasa saling percaya. Abstrak dan sangat kompleks serta mungkin susah untuk diterjemahkan dalam kata-kata, tetapi bisa dirasakan keberadaannya.

Aturan sucinya adalah apabila konstanta keseimbangan itu telah dicapai maka apapun yang menggoyahkan harus secepat mungkin dieliminasi. Seberapapun ongkos yang harus dibayar. Pertimbangan apapun di luar untuk konstanta keseimbangan tim tidak layak diperhitungkan.

John Terry dianggap menggoncang keseimbangan tim, ia harus membayar ongkosnya. Sederhana. Lugas. Tanpa kompromi. Demi kepentingan yang lebih besar, keutuhan dan kesatuan tim nasional Inggris, kunci sukses dalam menghadapi Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan nanti. 

Ya, di Inggris, di Eropa, di mana saja, bahkan di tempat di mana kebobrokan moral telah merajalela, moralitas tetap menjadi nilai acuan dalam kepemimpinan. Tak terkecuali di dunia  sepakbola. (dts/sym)