Jumat, 3 September 2010

Kreativitas Ala Bangkok

Etty Herawati dan suami

Wajah dan postur tubuh orang Thailand tidak berbeda dengan bangsa kita. Kekayaan alam dan keadaan iklim juga tidak berbeda. Namun, sejarah membuktikan, bangsa ini terlalu kuat untuk dijajah bangsa lain dan mampu keluar dari badai krisis ekonomi yang melanda negara-negara Asia Tenggara. Etty Herawati, alumni ESQ Eksekutif angkatan 30 menuturkan pengalamannya ketika berkunjung ke Negeri Gajah Putih ini.

Letak Geogra­fis Thailand yang ber­ada di tengah Asia Tenggara membuat negara ini berbatasan langsung de­ngan negara-negara lain. Di sebelah selatan Thailand berbatasan de­ngan Malaysia, di utara berbatasan dengan Laos, di sebelah barat berbatasan dengan Myanmar dan di timur dengan Kamboja. Berbatasan langsung dengan negara lain memang memiliki resiko dalam hal keamanan, namun Thailand berhasil meredam konfliknya tanpa harus terdengar gembar-gembornya di negara lain.

Saat itu Etty Herawati (52) pergi bersama suami dan dua anaknya. Perjalanan dimulai dari Pulau Batam, dilanjutkan ke Singapura, lalu Malaysia dan terakhir ke Thailand. Wa­nita beranak empat ini memang sangat menyukai tra­veling, hampir seluruh pulau di Indonesia telah ia jelajahi. Beberapa negara juga pernah disinggahinya. Satu hal yang membuat Etty amat menyukai kegiatan ini adalah kesempat­an untuk melihat kebudayaan negara lain menjadi modal dalam pergaulan sehari-hari.

September 1999 bertepa­tan dengan pe­rayaan Moon Cake di Singapura, dan ulang tahun negara Singapura, Etty dan keluarga memulai perjalanan mereka.

Perjalanan di­lakukan tanpa menggunakan tour guide. Alasannya sangat sederhana, selain biaya bisa ditekan,se- bagai turis Etty dapat meng­atur waktunya sendiri sehingga tidak diburu-buru oleh rombongan. Alasan lainnya, berjalan di negeri orang tanpa guide terasa lebih me­nantang.

Dari Singapura, perjalanan diterus­kan ke Malaysia. Etty dan suami ha-nya berdua saja, kedua anaknya yang sebelumnya ikut bersama mereka harus berpisah karena ada keperluan lain. Petualangan ke negeri “Budha Tidur” dimulai dengan perjalanan udara dari Malaysia ke Thailand dengan pesawat selama 2 jam.

Di Bandar Udara Don Muang Bangkok, Etty dan suami harus menjalani proses keimigrasian yang ketat. Sampai di sini, perjalanan tanpa adanya tour leader mulai mendapatkan masalah. Karena umumnya masyarakat Thailand juga tidak terlalu mengerti bahasa Inggris. Kesulitan lain adalah bentuk tulisannya yang mirip tulisan Jawa kuno. Sampai di sebuah hotel, Etty memutuskan untuk segera menghubungi travel agent dan ikut dalam rombongan tour.

Sekilas, Bangkok tidak berbeda jauh dengan Jakarta dan Asia pada umumnya. Jika perjalanan sebelumnya di Singapura Etty sangat menikmati keramaian dan keamanannya, di Thailand Etty justru merasa sebaliknya. “Saat itu tengah beredar isu tentang virus AIDS yang disebarkan melalui jarum suntik. Seperti kita ketahui Thailand merupakan salah satu negara dengan pengidap AIDS dan HIV terbesar di Asia Tenggara. Jadi isu tersebut saya tanggapi dengan serius dan membuat saya tidak begitu menikmati perjalanan kami.”

Bagi Etty, hampir tidak ada yang terlalu spesial pariwisata yang ditawarkan Thailand di Bangkok. Perjalanan diawali di floating market atau pasar terapung di tengah kota Bangkok. Menurutnya, floating market di Bangkok tidak terlalu berkesan, apalagi jalanan yang becek dan bau yang tidak sedap di sekitar pasar membuat ‘selera travelingnya’ sedikit menurun.

“Saya tidak melihat hal-hal yang berkesan di daerah ini, rasanya jika dibandingkan dengan pasar apung di Banjarmasin, keindahan dan kebersihannya jauh sekali. Di Banjarmasin, sungainya lebih besar, dan perahu-perahunya lebih banyak. Anehnya, para turis sangat mengagumi lokasi ini ketimbang Banjarmasin,” ujarnya dengan mimik serius.

Salah satu hal yang membuatnya memutuskan untuk bergabung dalam agen perjalanan adalah situasi yang tidak terlalu aman di Bangkok. “Di sana banyak copet, terutama di pasar-pasar tradisional,” kenangnya.

Perjalanan selanjutnya diteruskan dengan melihat-lihat tempat pariwisata, seperti pagoda kerajaan, pasar batu berlian, dan tempat-tempat kesenian. Khusus di pasar berlian, Etty mendapatkan hadiah khusus dari sang suami, karena saat itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya.

Perjalanan selama empat hari di Bangkok dihabiskan dengan menjelajahi berbagai objek wisata dan pusat perbelanjaan bagi turis. Satu-satunya hal membuat Etty terkesan dari bangsa ini adalah kemampuan Thailand dalam melihat kesempatan dan memanfaatkan potensi mereka. Dengan kondisi geografis dan iklim yang sama, Thailand mampu menjual industri pariwisatanya ke mancanegara. Thailand sering menjadi objek dalam berbagai film berskala internasional, sebut saja pantai Pattaya yang menginspirasi film “The Beach” yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio, Sylverstone Stalone juga pernah berlaga dengan setting ilmu bela diri Thailand dalam “Rocky”, dan banyak lagi cuplikan Thailand yang diabadikan dalam film-film box office.

Keberhasilan pemerintah Thailand dalam menjaring wisatawan asing memang perlu diacungi jempol, terlepas dari image Thailand yang juga penuh dengan hiburan malam.

Di Bangkok, Etty sangat menikmati hasil buah-buahan kualitas nomor satu dengan harga yang amat murah, seperti durian Bangkok yang tanpa biji, atau pisang Bangkok. Di sana pula, ikan cupang yang biasa kita lihat banyak dimainkan oleh anak-anak berhasil dieksploitasi dalam sebuah permainan “adu cupang” yang banyak diminati turis. “Padahal kalau di Indonesia, ikan cupang kelihatannya tidak berharga, namun mereka cukup cerdas memanfaatkan adu cupang itu sebagai sebuah atraksi. Dan atraksi tersebut sangat diminati turis asing.”

Satu hal lagi yang tetap dijaga masyarakat Thailand hingga saat ini, yaitu memuliakan raja. Raja Thailand me­rupakan simbol pemersatu rakyat. Hal tersebut masih dianut hingga saat ini. Penghormatan terhadap raja masih dilakukan dengan cara membungkuk ketika raja dan rombongannya melewati kerumunan masyarakat. Bukan tidak mungkin, perasaan bersatu ini yang membuat masyarakat Thailand sangat mencintai raja dan negaranya, bekerja dengan maksimal, dan berlomba-lomba menghasilkan yang terbaik hingga dapat bertahan dari gejolak naiknya mata uang Dollar beberapa saat yang lalu. Thailand dianggap stabil oleh dunia internasional pada tahun 1997, saat Indonesia mulai menuai krisis ekonomi dengan keterpurukan nilai rupiah yang sangat drastis.

Bagi penggila belanja terutama akse­soris dan pernak-pernik, seperti gan­tungan kunci, pensil, kipas, dan lain-lain. Thailand memang menyediakan kebu­tuhan tersebut dengan harga yang sa­ngat murah dan kualitas terbaik. Konon banyak pengusaha Indonesia yang de­ngan sengaja meluangkan waktu mereka untuk berburu pernak-pernik Thailand untuk dijual di Indonesia.

Sebagai negara dengan penganut Budha terbesar, Thailand juga terlihat sangat kuat memegang tradisi kebuda­yaan dan keagamaan. Pemuda-pemuda Thailand memiliki kebiasaan memakai gelang di lengan kiri mereka sebagai simbol kejantanan. Hingga kini kebiasaan tersebut masih banyak dipakai. Hal ter­sebut menjadi ciri khas bagi pemuda Thailand sekaligus identitas di antara bangsa lain.

Pariwisata sepertinya memang di­usahakan dengan sangat serius di nega­ra ini. Hal tersebut dirasakan dengan ba­nyaknya kios travel di sekitar banda­ra maupun tengah kota. Ini sangat mem­bantu turis dalam mengatur jadwal liburan mereka. Liburan di Bangkok mungkin bukan liburan terbaik yang pernah dirasakan Etty, tetapi ia merasakan banyak pelajaran yang dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh. (nurhablisyah)

* Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi cetak No. 15/Tahun II/2005

0
No votes yet
Your rating: Tidak ada
Nikmati sajian informasi kami dari browser ponsel Anda di http://m.esqmagazine.com

Komentar

Kirim komentar

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
15 + 2 =
Selesaikan soal berhitung sederhana ini.