Asal Muasal Cerita Cicak dan Buaya
Harus diakui bahwa banyak orang yang tidak suka dengan sebutan cicak atas lembaga terhormat seperti KPK. Itu sebabnya menyamakan lembaga terhormat itu dengan cicak menimbulkan reaksi keras. Istilah cicak ini kemudian menjadi simbol perlawanan. Bagaimana sesungguhnya asal mula sebutan itu?
Kabareskrim Mabe Polri Komisaris Jenderal (Komjen) Susno Duadji --orang yang mempopulerkan sebutan itu -- diminta menjelaskan soal istilah itu semalam dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III di DPR-RI.
Dengan wajah sumringah, Susno menyambut permintaan itu. Rupanya suasana dengar pendapat yang hangat membuatnya tampak gembira. Berbeda saat menyampaikan bantahan dugaan masuknya 10 miliar ke kantongnya, dimana air mata meleleh di pipinya.
"Kesempatan inilah paling baik saya jelaskan pada seluruh masyarakat indonesia," ujar Kabareskrim nonaktif itu dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR, Jumat (6/11).
Katanya, kalau sekarang mencela cicak dan buaya, mungkin lima tahun lagi ini jadi perkara perdata rebutan hak ciptanya siapa. Kontan hal tersebut pun mengundang tawa ringan sejumlah anggota Komisi III dan pejabat Polri yang hadir.
Ia mengatakan, istilah tersebut berawal dari perbincangannya dengan seorang wartawan yang menanyakan jenis alat sadap Polri. "Waktu wartawan datang ke kantor saya, dia tanya, kok bisa tahu teleponnya disadap dari siapa," kata Susno memulai cerita. Susno pun menjawab, bisa dong dari alat yang dimiliki polisi.
Susno melanjutkan, lalu wartawan tersebut bertanya lagi apakah alat tersebut juga bisa menyadap. Ia pun menjawab ya. Selain itu, Susno mengaku juga sempat berujar kalau alat punya KPK mungkin nggak bisa seperti alat yang dimiliki polisi.
"Ditanya lagi kira-kira membandingkan. Kan saya bukan orang teknologi, kira-kira perbandingannya begini. Kebetulan di akuarium ada cicak. Kalau iguana lawannya apa? Kalo satunya cicak, satunya apa? Serse saya bilang buaya," jelas Susno.
Itulah yang kemudian memunculkan ikon terkenal kasus KPK dan Polri. Tapi, lanjut Susno, cerita tersebut masih ada sambungannya. "Sambil ngobrol-ngobrol, saya bilang... dari segi alam dan dari segi kekuasaan terbalik. Kami cicak situ buaya. Kalau situ nangkap tidak perlu izin-izinan," jelasnya. (kom/viv/tin- www.esqmagazine.com)
Baca juga...
- DPR Bangun Gedung Baru Setaraf Bintang Lima
- LBH Jakarta Buka Posko Pengaduan THR
- Korupsi Kejahatan Tak Termaafkan
- NU: Ulama Jangan Shalati Jenazah Koruptor
- Kapolri Akhirnya 'Muncul' Juga
- Infotainment Pemicu Tingginya Perceraian
- Penasihat Kapolri: Bambang Hendarso Sakit
- Kapolri Hilang Misterius, Sertijab Batal
- Mabes Polri Sertijab 556 Perwira Tinggi dan Menengah
- Calon 'Bos' KPK Tes Makalah
-
2 hari 8 jam yang lalu
-
4 hari 20 jam yang lalu
-
5 hari 20 jam yang lalu
-
1 minggu 18 jam yang lalu
-
1 minggu 2 hari yang lalu
-
1 minggu 5 hari yang lalu
-
2 minggu 1 hari yang lalu
-
2 minggu 2 hari yang lalu
-
2 minggu 3 hari yang lalu
-
2 minggu 3 hari yang lalu


Komentar
"Dan Ingatlah ketika kami berfirman kepada malaikat:"sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir" (QS. 2 ayat 34).
Kirim komentar