Jumat, 12 Maret 2010

Puasa Bentengku

Nabi Muhammad SAW bersabda, "...maka hendaklah ia berpuasa, sesungguhnya puasa bisa menjadi benteng baginya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Yang dimaksudkan benteng (junnah) di sini adalah perisai yang menjaga diri dari penyakit fisik dan psikologis.

Menurut arti secara bahasa, wija’ adalah melumat urat-urat testis tanpa mengeluarkannya. Dengan demikian, puasa diserupakan dengan mengebiri. Artinya, puasa bisa menjadi benteng. Karena dengan berpuasa kita bisa meluruhkan syahwat sekaligus melemahkan kecenderungan yang mengarah pada syahwat tersebut.

Jika kita telusuri lebih mendalam benteng itu merupakan bangunan tempat berlindung atau bertahan (dari serangan musuh –hawa nafsu-) karena hanya yang berlindung di dalam bentenglah yang selamat.

Benteng puasa mampu melindungi diri dari gejolak dan keinginan-keinginan nafsu, yang di antaranya berupa nafsu yang bertolak dari perut serta menggiring pemiliknya pada obesitas dan kehancuran. Keinginan nafsu yang lain adalah nafsu yang bertolak dari kemaluan yang menggiring pemiliknya pada kenistaan dan kesia-siaan. Demikian penjelasan Muhammad Ibrahim Salim.

Realitas pun menunjukkan bahwa puasa mampu menjaga diri dari berbagai perilaku jahat (tidak baik) dan dosa yang melemparkan manusia ke dalam jurang kehancuran dan menjerumuskannya dalam neraka.

Puasa yang diperintahkan Allah kepada kita sebenarnya bertujuan untuk kemaslahatan (kebaikan dan kepentingan) kita. Puasa dalam konsep inilah yang mampu mencegah kita dari segala macam kenistaan sekaligus memperkokoh tekad kita untuk memerangi hawa nafsu.

Hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa sebenarnya tidak kembali kepada Allah SWT, karena Allah sama sekali tidak butuh terhadap apa dan siapapun, tetapi hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa ini kembali pada kemaslahatan sosial. Inilah yang dimaksudkan sabda Nabi SAW, ...maka Allah sama sekali tidak butuh peninggalan makan dan minumnya (tidak butuh puasanya). (HR. Al-Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)

Berkaitan dengan puasa sebagai benteng, Ary Ginanjar Agustian menjelaskan dalam bukunya yang berjudul: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual bahwa, “Puasa adalah suatu metode pelatihan untuk pegendalian diri. Puasa bertujuan untuk meraih kemardekaan sejati, dan pembebasan dari belenggu yang tak terkendali. Puasa yang baik akan memelihara aset kita yang paling berharga, yaitu suara hati Ilahiah, dan tujuan hidup yang sesungguhnya.”

Dengan demikian dapat dipahami bahwa puasa merupakan ibadah yang bertumpu pada komitmen bahwa seseorang harus mampu mengusai hawa nafsunya, harus mampu mengendalikan keinginan, dan harus memiliki tekad kuat yang digunakan untuk meninggalkan keinginan yang paling ia sukai serta untuk mengedepankan apa yang tidak disukai! Tiang penopang puasa adalah membebaskan keinginan manusiawi untuk mencapai kemardekaan sejati dari kooptasi hawa nafsu dan membuatnya tunduk pada perintah-perintah Allah, bukan pada dorongan-dorongan nafsu hedonik.

Mudah-mudahan puasa yang kita jalani akan menjadikan sebagai benteng kita demi mendapat kemardekaan sejati dengan hanya mengabdi kepada Allah SWT. Wallahu a’lam. (Baihaqi Nu’man)