Selasa, 16 Maret 2010

Meraih Bahagia dengan Berbuka

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang berbuka puasa mempunyai dua kebahagiaan yang bisa ia rasakan; kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya karena puasa yang dilakukannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

“Kebahagiaan ketika berbuka maksudnya adalah karena ia merasa senang atas nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, yaitu bisa melaksanakan puasa yang merupakan salah satu bentuk amal saleh yang paling utama. Betapa banyak manusia yang tidak memperoleh nikmat tersebut sehingga mereka tidak berpuasa. Ia juga merasa senang atas makanan dan minuman yang kembali dihalalkan Allah baginya, setelah sebelumnya diharamkan pada saat berpuasa. Demikian pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin dalam kitab Majalisu Syahri Ramadhan.

Adapun kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya adalah  karena ibadah puasanya diterima oleh Allah dan mendapat balasan yang berlipat ganda. Orang yang berpuasa dipersilahkan masuk ke pintu surga dari pintu Ar-Rayyan yang tidak akan dimasuki oleh seorang pun selain mereka.”

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah menyegerakan berbuka. Bersegera untuk berbuka  merupakan hal sunnah.  Rasulullah SAW bersabda,”Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘hambaku yang paling Ku-cintai adalah, yang menyegerakan berbuka.” (HR. At-Tirmidzi). Hadits  ini menjelaskan bahwa menyegerakan berbuka adalah amalan yang disyariatkan, sehingga para ulama berpendapat bahwa amalan ini mustahab/ sunnah, jika yang bersangutan telah yakin bahwa matahari benar-benar sudah terbenam (saat berbuka telah tiba).

Dalam berbuka puasa juga disunnahkan untuk memakan kurma atau meminum air, Rasulullah SAW bersabda,”Jika salah satu dari kalian berbuka, maka berbukalah dengan kurma, dan jika tidak menemui, maka berbukalah dengan air, sesungguhnya air itu mensucikan." (HR. Abu Dawud)

Berbuka dengan kurma disunnahkan juga dengan jumlah yang ganjil; tiga, lima, atau tujuh, merujuk pada penuturan Anas ibnu Malik: "Rasulullah SAW selalu berbuka puasa dengan menu kurma-kurma matang (ruthab) sebelum shalat. Jika tidak ada, maka dengan beberapa buah kurma kering (tamar). Dan jika tidak ada juga, maka beliau buka dengan beberapa teguk air." (HR. Ad-Daruquthni)

Semua ini mengandung hikmah tersendiri. Menurut data medis, zat gula dan air merupakan asupan pertama yang dibutuhkan tubuh orang puasa setelah berpuasa selama beberapa waktu. Sebab kekurangan gula dalam tubuh bisa menyebabkan kesempitan tenggorokan dan kekacauan fungsi syaraf, sementara kekurangan air dalam tubuh bisa menyebabkan kelemahan tubuh dan penurunan daya tahannya, sehingga tidak mampu menjalankan fungsi-fungsinya secara maksimal.

Air yang dicampur dengan pemanis gula juga mengandung banyak manfaat, sebab dapat diserap oleh usus dalam tempo kurang dari lima menit, sehingga tubuh pun langsung merasa segar, dan gejala-gejala kekurangan gula maupun air di dalamnya juga hilang. Lain halnya dengan orang puasa yang langsung mengisi perutnya dengan makanan dan minuman pada saat berbuka. Ia membutuhkan waktu tiga atau empat jam agar usus-ususnya bisa menyerap gula, sehingga ia seperti orang yang berpuasa wishal (menyambung puasa tanpa berbuka), dan lebih lanjut ia bisa mengalami kesulitan pencernaan.

Jika pelaku puasa mengikuti instruksi-instruksi kesehatan dan mencegah diri dari berlebih-lebihan dalam mengonsumsi sejumlah lemak dari berbagai jenis makanan pada saat sahur dan buka puasa, maka hal itu akan memberikan waktu bagi sistem-sistem tubuh, terutama sistem pencernaan untuk beristirahat sejenak guna menghimpun tenaga baru, membersihkan tubuh dari hal-hal yang bisa melumpuhkan sistem-sistemnya, misalnya kegemukan (obesitas) atau kongesti, serta membuang sisa-sisa sampah yang menumpuk di dalam tubuh dan garam-garam mineral yang mengendam di dalam sel-selnya.

Selain itu juga disunnahkan memberi makan untuk berbuka, Rasulullah SAW bersabda,”Barang siapa memberi makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala sebagaimana pahala orang yang berpuasa, dan itu tidak mengurangi pahala yang berpuasa." (HR. At-Tirmidzi)

Disamping memberikan makanan untuk berbuka puasa kepada mereka yang berpuasa, disunnahkan juga berdoa. Karena waktu berbuka adalah waktu mustajabah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa saat ia berbuka, doanya tidak tertolak.” (HR. Ibnu Majah)

Saat manusia sedang berpuasa ia begitu dekat dengan Allah SWT. Segala hal yang dimunajatkan oleh orang yang sedang berpuasa akan dikabul. Tiada lagi jarak antara seseorang yang berpuasa dengan Allah SWT.

Sebuah kesempatan yang sangat berharga, karena doa tidak akan tertolak saat  kita sedang ifthar atau berbuka puasa. Manfaatkanlah waktu yang sejenak ini untuk berdoa kepada Allah SWT. Karenanya, perbanyaklah berdoa kepada Allah SWT! Sungguh Allah SWT akan mengabulkan segala permintaan. Wallahu a’lam. (Baihaqi Nu’man)