Jumat, 12 Maret 2010

Brave The World!

Oleh: Komaruddin Hidayat*

Sifat pantang menyerah, tidak takut resiko, dan tidak kenal kata gagal terlihat sangat mengagumkan pada anak kecil, tapi semakin dewasa sifat itu kadangkala semakin melemah. Coba saja perhatikan, bagaimana proses dan perjuangan anak kecil untuk bisa berdiri dan berjalan. Berulangkali jatuh bangun, kaki lecet, dan kepala terbentur-bentur. Namun anak kecil hampir-hampir tidak pernah memiliki rasa takut dan tidak mundur semangatnya untuk mengulangi dan mengulangi lagi sampai suatu saat sang anak bisa berdiri, berjalan, dan berlari.

Demikianlah, setelah kita tumbuh dewasa rasanya kehebatan childhoodness (kualitas masa kanak-kanak) perlu kita jaga jangan sampai hilang. Bahwa untuk menjadi kuat, tahan banting dan mandiri perlu lulus dari serangkaian ujian dan kesulitan hidup. Seorang pendaki gunung yang sejati, misalnya, akan tertantang oleh terjalnya jalan pendakian. Seorang pembalap dan country-crosser tidak bergairah kalau jalan yang dilalui terlalu mulus. Pemain bola yang professional, adrenalin dan semangat juangnya akan keluar hanya ketika bertemu musuh yang seimbang atau lebih kuat.

Begitulah seterusnya sehingga muncul aksioma bahwa seseorang akan menjadi kuat dan tegar menghadapi seluk beluk dan kejutan hidup kalau mereka memiliki deposito pengalaman berupa kemenangan mengalahkan tantangan hidup di masa lalunya. Sebagaimana berlaku dalam sekolah, untuk naik kelas seorang murid mesti siap menghadapi ujian.

Sesungguhnya ujian adalah bagian dari proses pembelajaran, bukannya belajar untuk ujian. Beberapa orangtua mengeluh, salah satu problem yang dihadapi anak-anak mereka adalah tidak tertempa mentalnya menghadapi kesulitan hidup sebagaimana yang pernah dialami generasi pendahulunya. “Biarlah saya yang menderita, tetapi jangan sampai itu terjadi pada anak saya”, demikian sikap sebagian orangtua yang kemudian inginnya selalu memanjakan anak-anaknya. Pada pihak anak-anak, ada yang kemudian mensyukuri fasilitas yang serba cukup lalu belajar dengan serius, tetapi ada pula yang lemah motivasinya untuk bekerja keras karena semua kebutuhan hidupnya sudah tercukupi.

Fenomena ini juga dirasakan oleh masyarakat yang secara ekonomi dipandang telah maju seperti halnya Amerika Serikat. Generasi awal yang datang ke belantara benua Amerika memiliki mimpi besar dan semangat juang tinggi untuk membangun dunia baru yang menjanjikan kebebasan dan petualangan. Sejarah Amerika mirip sejarah Islam di abad permulaan. Tak sampai lima abad tiba-tiba menjadi kekuatan besar dunia. Tetapi menurut para pengamat sosial, banyak dari remaja Amerika sekarang yang semangat juangnya rendah, terkalahkan oleh para pendatang dari Cina dan Afrika. Bahkan kini kebangkitan iptek dan ekonomi Cindia (Cina dan India) dengan kualitas yang sama namun dengan harga murah telah menimbulkan mimpi buruk bagi Amerika dan Eropa. Mereka tidak sanggup bersaing dalam aspek harga karena di Cindia tenaga buruh melimpah dan upah amat rendah. Rumor politik yang beredar mengatakan, satu-satunya jalan untuk mengusir mimpi buruk tadi adalah Barat berusaha menguasai sumber dan mempermainkan harga energi bahan bakar dunia yang sebagian besar ada di dunia Islam. Selain itu Barat secara gigih berusaha menginjeksikan virus gaya hidup materialisme di Cindia.

Berbagai analisis menyebutkan, sejak awal AS dan Inggris sudah tahu bahwa ketika mereka menyerang Irak, sesungguhnya isu nuklir hanya sekedar alasan yang dibuat-buat belaka. Yang paling mendasar adalah bagaimana menguasai sumber energi dunia untuk mempertahankan supremasi mereka dalam persaingan global. Andaikan negara-negara minyak di Timur Tengah berkoalisi dengan kekuatan Cindia dan negara-negara Timur lain, maka dalam waktu sekejap saja diperkirakan negara Barat akan berubah menjadi dunia ketiga.

Dari uraian singkat di atas, satu hal yang ingin saya kemukakan adalah bahwa kini persaingan di semua lini kehidupan semakin intens ketika jumlah penduduk dunia semakin banyak, iptek modern kian canggih, sumber daya alam terus berkurang, sehingga naluri-naluri primitif manusia bisa semakin berlipat daya rusaknya kalau tidak dikendalikan oleh kekuatan positif yang lebih besar, yaitu kekuatan dan gerakan hati nurani yang terlembagakan. Oleh karena itu dirasa sangat mendesak bagi orangtua untuk menanamkan spirit perjuangan hidup pada anak-anak kita.

Sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada bangsa Indonesia di masa depan kalau kita tidak mempersiapkan generasi penerus yang memiliki integritas dan kompetensi tinggi yang sanggup mengangkat harkat dan martabat bangsa yang saat ini sangat tidak membanggakan. Kita pantas berbangga bahwa para pendiri republik ini adalah figur-figur intelektual yang religius dan sekaligus aktivis pergerakan sosial. Mereka tidak segan-segan masuk penjara demi memperjuangkan nasib rakyat dan prinsip-prinsip moral. Mereka adalah tokoh-tokoh pergerakan namun juga sangat mencintai buku dan ilmu pengetahuan. Mereka siap menjalani hidup miskin demi kesejahteraan dan kejayaan bangsa.

Sungguh kita merindukan tampilnya generasi dan pemimpin yang digerakkan oleh kekuatan moral-spiritual. Catatan sejarah Rasulullah mengisyaratkan bahwa membangun sebuah generasi diperlukan waktu antara 20–25 tahun. Siklus perubahan generasional ini tampaknya juga terjadi di Indonesia, dimulai misalnya dari 1908 muncul pergerakan Boedi Oetomo, 1928 lahir Sumpah Pemuda, 1945 proklamasi kemerdekaan RI, 1965 terjadi pemberontakan Gestapu. Dan sesungguhnya, mengutip pendapat Cak Nur (alm), sekitar tahun 1985 Indonesia panen sarjana secara masif, namun pemerintah waktu itu tidak mampu membaca siklus peralihan generasi ini dengan membuka ruang demokrasi sehingga babak reformasi harus dimulai dengan mundurnya Soeharto. Lalu 2004/2005 terselenggara pemilu langsung untuk yang pertama di Indonesia.

Dengan membaca fenomena ini, Cak Nur memprediksi bahwa kebangkitan Indonesia baru akan terjadi 20 tahun kemudian, yang dalam forum training ESQ selalu didengungkan lahirnya generasi emas, menyongsong kebangkitan Indonesia 2020. Brave the World! Tataplah dunia dan masa depan optimis, kepala tegak dan hati istiqamah.

* Penulis adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Alumni ESQ Eksekutif Angkatan 20. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Nebula (ESQ Magazine) edisi cetak No. 11/Tahun I/2005